When a Dream Comes True…

Finally, my long awaited dream guitar comes to my hands! Thanks to my lovely wife for this awesome birthday present!
After 23 years, I finally have a Jackson guitar!

Jaman SMA tahun 1992-1995, saking tergila-gilanya dengan musik rock, saya ikutan trend yang lagi hype di masa itu, anak Bandung itu pasti bisa memainkan alat musik. Setelah mencoba menjadi vokalis, rythm gitaris sampai drummer, akhirnya saya memutuskan untuk fokus di gitar. Setelah belajar teknik dasar blues dari teman main band saya, Andriansyah Soemirat. Panggilan bermain gitar rock & thrash metal mulai menguat, saya berusaha dengan segala cara, termasuk merayu almarhum ibu untuk membelikan saya gitar listrik, tapi selalu ditolak, karena harganya saat itu masih selangit dan beliau tidak setuju saya jadi rocker..hehe
Akhirnya hanya bisa mimpi suatu hari nanti punya gitar listrik..apapun namanya yang penting bisa rocking…Yamaha RGX sudah sangat mewah saat itu..meskipun yang saya idamkan adalah gitar Jackson..gitar ikonik musisi metal pada jamannya.

Tak mau menyerah, setelah berbulan-bulan menabung dari uang jajan, dengan modal 150 ribu perak, saya nekat membeli gitar listrik pertama saya di toko Tiga Negeri, Bandung. Sebuah gitar dengan spek paling rendah dan harga paling murah yang berkualitas seadanya merk PRINCE, karena hanya itu yang mampu saya beli pada saat itu.
Tapi berkat gitar itulah, saya belajar shred & semua riff Rage Against The Machine, Metallica, Nine Inch Nails sampai U2.

Karena tengsin pake gitar low entry level, padahal teman-teman gitaris band lain gitarnya keren-keren..minimal mereka pakai gitar trendy yang ciamik Samick-Korea…sementara jadwal manggung tambah banyak dan gitar idaman saya yang sampai kebawa mimpi yang naudzubillaahimindzalikh tak mungkin terjangkau oleh saya…hiks.

Demi terlihat keren oleh para penonton dan ingin bergaya ala idola saya Kirk Hammett, saya berupaya menyamarkan gitar murahan yang saya pakai, headstock gitar Prince saya cat hitam dengan kuas, kemudian untuk merk saya buat tulisan tangan pakai tip-ex dengan tulisan “JACKSON”. Alhamdulillah cukup menambah pede beberapa persen.
Sudah tentu jadi bahan ledekan..ada yang menjuluki gitar “Jacksen Thiago”…”Jackprin” dan lain lain..but it never stopped me, the show must go on..hahaha.

Sampai akhirnya ada tugas kuliah yang mengharuskan saya berinteraksi dengan industri, kebetulan ARISTA guitar sebuah pabrik gitar terkenal di Bandung mau bermurah hati menerima saya sebagai mahasiswa untuk belajar desain & produksi gitar. Kemudian ARISTA memberikan secara cuma-cuma body & neck gitar hasil desain saya minus kelistrikan & hardware komponennya.

Supaya gitar hasil rancangan saya dan diproduksi oleh ARISTA itu bisa dioperasikan dan dipresentasikan ke dosen, saya butuh komponen lainnya, tidak ada biaya untuk membelinya, terpaksa gitar Prince alias “Jaksen Thiago” jejadian kesayangan saya itu saya bongkar & komponennya saya pindahkan ke gitar tugas kuliah tersebut.
Menjelmalah gitar custom berbentuk seperti kupu-kupu yang sebetulnya terinspirasi karakter Bone Dragon di PC game Heroes III of Might & Magic. Gitar inilah yang sering saya pakai di panggung bersama band Helm Proyek di kemudian hari..

Setelah belasan tahun melalui berbagai pengalaman hidup, berbagai gitar akhirnya bisa saya dapatkan. Sebut saja ESP LTD M300FM, Epiphone Les Paul Standard, Fernandes The Function Stratocaster dan Epiphone Les Paul 100 LE.

Namun sejujurna…gitar Jackson inilah impian masa muda saya yang menjadi kenyataan..meskipun badan sudah menua, dihinggapi masalah asam urat, kolesterol dan sebagainya.. tapi gelora thrash metal masih berkobar & bergemuruh di dalam dada saya.

Terima kasih istriku sayang yang telah membuat semua mimpi saya terwujud..
Ay lap yu so maceuh…


Posted

in

Tags: